Alan Rickman tertekan memerankan Profesor Snape

Dalam waralaba film Harry Potter, actor Alan Rickman yang memerankan Profesor Severus Snape dapat dikatakan cukup menonjol. Alasannya bukan hanya karena karakter Snape yang menjadi pemegang kunci rahasia seluruh misteri yang melingkupi hidup Harry, tapi juga bagaimana mendiang Alan Rickman sukses membawakan karakter guru ramuan yang misterius tersebut.

 

Barang lelangan membuka rahasia

Setelah kematiannya, belum lama ini terungkap rahasia bahwa yang bersangkutan sempat tertekan saat harus menjadi Profesor Snape yang misterius, dingin, dan terlihat jahat ini. Rahasia tersebut terkuak dalam beberapa dokumen, naskah, foto, surat, hingga beberapa benda koleksi sang actor yang dilelang ke publik.

 

Sebagaimana yang dilansir oleh Entertainment Weekly pada Rabu 10/5/2018, David Yates, sang produser sempat mengirimkan sepucuk surat kepada actor watak tersebut. Dalam secarik kertas itu ia menyampaikan terima kasih karena bersedia berkontribusi pada kesuksesan film Harry Potter ke 2, yaitu Harry Potter and the Chamber of Secrets pada 2002.

 

Sang produser mengatakan bahwa ia mengetahui momen-momen saat Rickman merasa tertekan, namun ia ingin agar mendiang actor togel online terbaik tersebut menjadi bagian yang tak terpisah dari seluruh film Harry Potter. Terakhir, Yates juga memuji Alan Rickman sebagai actor yang brilian.

 

Salah satu barang-barang pribadinya yang dilelang ada sebuah catatan yang ditulis sendiri oleh Alan Rickman, dengan judul “Di Dalam Kepala Snape”. Seperti dilansir Telegraph, pada film ke-6 Harry Potter, The Half Blood Prince, sang actor sedikit kecewa karena sutradara dirasa kurang mendalam mengeksplorasi karakter guru ramuan tersebut. Ia juga berpendapat bahwa sutradara terlalu mengutamakan daya tarik film ini bagi penonton remaja.

 

Terlepas dari itu seluruh koleksi actor yang wafat karena penyakit kanker ini ditaksir bernilai hingga 950 ribu poundsterling atau bila dirupiahkan mencapai 17.6 miliar.

 

Fakta-fakta tentang Harry Potter

Memang menarik mengetahui fakta yang mungkin tak pernah kita bayangkan tentang actor pemeran Profesor Snape, namun akan lebih menarik lagi bila Anda juga mendapatkan informasi tentang fakta-fakta seru lainnya pada film Harry Potter. Simak ulasannya!

 

Moaning Myrtle

Myrtle merana adalah sosok hantu perempuan yang menghuni toilet di Hogwarts. Siswi tersebut dibunuh oleh Basilisk, ular raksasa yang bisa membunuh hanya dengan tatapan mata. Saat pertama kali melihat Moaning  Myrtle yang dibintangi oleh Shirley Henderson, banyak penonton yang mengira bahwa usia aktris tersebut mungkin 15 atau 17 tahun. Faktanya pada waktu memerankan sosok hantu yang tembus pandang itu usia Henderson sudah 37 tahun.

 

Cameo

Ian Brown, vokalis The Stones Roses sempat menjadi cameo di film Harry Potter 1, The Sorcerer’s Stone. Ia tampak sebagai seorang penyihir yang tengah menikmati teh di kedai Leaky Cauldron sambil membaca buku. Dengan ayunan tangannya ia membuat sendok di cangkir tehnya bisa mengaduk sendiri.

 

Warna mata Harry

Pada bukunya dikatakan bahwa warna mata Harry Potter adalah hijau, tetapi ternyata warna mata Harry pada film adalah biru terang. Hal ini ternyata mendapat protes dari penggemar karena warna mata Harry seharusnya sama dengan warna mata Lily Potter, ibunya. Tapi warna mata Lily di film tersebut justru coklat. Konon Daniele Radclife sempat memakai lensa kontak berwarna hijau pada awal syuting film ini, namun karena iritasi mata warnanya dibiarkan saja alami, yaitu biru.

 

Karakter Snape yang asli

Karakter Snape yang baik hati dan justru melindungi Harry kabarnya hanya diketahui oleh JK Rowling dan Alan Rickman sendiri. Saat naskah telah keluar pada akhir film, sutradara dan para kru baru mengetahui karakter asli sang guru ramuan yang malang itu.

Continue reading

Sutradara Beri Penjelasan Akhir Avengers: Infinity War

Bagi Anda yang sudah menonton film Avengers: Infinity War, pasti sedikit banyak merasa sedih atas akhirnya. Akhir film ini adalah pertaruhan besar bagi Marvel. Pasarnya bisa saja berkurang meskipun sampai saat ini, film ini masih menjadi film dengan debut tertinggi. Akan tetapi sutradara agen togel online Russo bersaudara mengaku bahwa mereka ada rencana di balik ‘duka massal’ tersebut seperti dilansir dari CNN Indonesia.

Rencana Besar Setelah Akhir Avengers: Infinity War

“Saat kami mulai bekerja sama dengan Marvel lewat film Captain America: Winter Soldier, kami ingin melakukan sebuah perubahan besar dari film (Captain America) pertama mereka,” ungkap Joe Russo. Saat itu dirinya dan Anthony Russo berkata, waktu untuk Captain America untuk terus maju.

“Interpretasi yang membuat kami tertarik jauh bahkan lebih modern dari apa yang telah kalian lakukan di film yang terakhir,” ungkapnya yang ternyata mendapatkan sambutan baik.

Marvel pasalnya memberikan risiko dengan memberinya kesempatan untuk melakukan yang diinginkan oleh ia dan saudaranya. “Apabila kalian meihat film Marvel yang kami garap, ada perubahan besar hang dapat mengubah cerita di akhir film. Kami sangat tertarik unrik mendobrak batasan dan juga cerita dengan cara yang tak terduga dan sangat mengejutkan penonton sejauh yang kami bisa,” kata Joe lagi.

Akhir Avengers: Infinity War yang juga tak kalah mengejutkan, menurut Joe adalah cara untuk menjaga para penggemar untuk tetap setia. Di sisi yang lainnya, penggemar yang mengikuti cerita Marvel Cinematic Universe bakal memahami akhir cerita itu tanpa bisa ‘mengendus’ apa yang hendak dilakukannya dengan saudaranya itu.

Apalagi, film-film Marvel yang diangkat dari komik perusahaan asal Amerika tersebut sudah terbit jauh sebelumnya pasti akan butuh kejutan bagi para penonton yang sudah membaca komiknya juga.

Penggemar Tak Boleh Bosan

Joe melanjutkan, “Saat Anda mencoba memprediksi apa yang diinginkan penggemar, malahan Anda akan membuat penggemar pergi. Saat Anda berkomitmen pada cerita yang ingin dikisahkan (oleh sutradara) itu malah cenderung memiliki dampak yang menggema pada para penggemar.”

Lantas ia menganalogikan pembuatan film dengan es krim coklat yang banyak disukai oleh penggemar. Apabila es coklat itu disajikan bahkan tiap hari, tentu saja mereka akan bosan. Menurut dirinya, sutradara mesti bisa tetap berada di depan dan juga memberi hal-hal yang baru dan juga pastinya mengejutkan yang tidak akan membuat mereka pergi.

Penjelasan itu juga didukung oleh Anthony Russo. Bahkan ia juga menambahkan, karakter pahlawan super makin menarik apabila diperlihatkan kelemahannya. Itu lah yang membuat mereka terlihat seperti layaknya manusia biasa dan lebih terasa dekat juga dengan penggemar. Ia bahkan tidak ragu menunjukkan itu.

“Anda mesti pergi ke tempat yang amat sulit agar pertaruhannya terasa sangat nyata, agar karakter merasa kehilangan sesuatu dan agar penggemar juga merasa baja mereka memiliki sesuatu yang berisiko,” ungkapnya.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, ia melanjutkan, “Apa yang kami cari dalam cara ataupun seni bertutur adalah puncak ketegangan emosional, yang mana membuat Anda merasa dan juga meresponsnya serta membuat Anda sangat bersemangat.”

Sebagian penggemar Marvel khususnya Avengers masih belum percaya pada akhir Avengers: Infinity War dan masih berharap juga apa yang terjadi dalam komik (yang mati bisa hidup lagi) pun bisa terjadi di film ini. Apalagi jika itu pahlaqapahlawan super ‘hijau’ uang baru punya banyak penggemar.

Continue reading