Sekuat 6,1 Magnitudo, Apakah Gempa Banten Bakal Seperti Aceh?

Hari Selasa (23/1) siang sekitar pukul 13.53 WIB terjadi gempa bumi cukup dahsyat dengan kekuatan 6,1 magnitudo itu berpusat di Samudera Hindia sebelah sebelah barat daya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tak heran kalau akhirnya guncangannya dirasakan di sejumlah tempat seperti Provinsi DKI Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor, Bandung, Lampung, dan Bantul.

 

Terungkap jika ternyata gempa tektonik itu terjadi di laut dengan pusat gempa pada 67 kilometer arah barat daya kota Bojong Haur, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Mencapai Jakarta yang berjarak 140 kilometer dari pusat gempa, disebut Daryono selaku Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG serupa dengan gempa di Tasikmalaya pada 15 Desember 2017 yang merupakan gempa Intraslab, seperti dilansir Kompas.

 

“Analoginya seperti kerucut yang terbalik, semakin dalam pusat gempa, maka wilayah yang terkena dampaknya akan semakin luas. Tetapi, kekuatannya berkurang seiring cakupan wilayahnya yang luas. Gempa itu merembet melalui kerak bumi, gempa tadi juga sampai ke Yogyakarta dan Lampung,” kata Daryono. Menandakan aktivitas zona tektonik di selatan pulau Jawa, rangkaian efek ini sudah dimulai saat gempa dan tsunami di Pangandaran pada tahun 2006 silam.

 

Lebih lanjut, Danny Hilman Natawidjaya selaku ahli gempa bumi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut jika gempa Banten membuat khawatir jika zona tektonik selatan Jawa makin aktif. Bahkan peneliti gempa ITB memprediksi jika seluruh segmen gempa di selatan Jawa runtuh bersamaan, kekuatannya dapat mencapai 9,2 magnitudo yangsetara dengan gempa Aceh pada 2004.

 

Puluhan Gempa Susulan Terjadi

 

Sehari setelah gempa, hari Rabu (24/1) siang. wilayah  Banten, Jakarta, dan Jawa Barat bagian barat kembali diguncang gempa tektonik. BMKG melaporkan jika gempa terjadi di laut pada jarak 72 km dari arah barat daya Lebak-Banten pada kedalaman 44 km dengan kekuatan mencapai 5,0 magnitudo. Bukan hanya itu saja, Daryono menyebut jika di sepanjang hari Rabu sudah ada gempa susulan sebanyak 46 kali.

 

Lewat gambaran peta tingkat guncangan BMKG, gempa dirasakan di wilayah Cimandiri, Panggarangan-Lebak, Cikande-Serang, Ujung Genteng, Curug Kembar, Sukabumi, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, dengan skala intensitas II SIG-BMKG (II-III MMI). Lalu wilayah Bogor, Cianjur, dan Depok merasakan gempa dengan skala intensitas I SIG-BMKG (II MMI).

 

Penyebab Gempa Capai 6,1 Magnitudo

 

Gempa di kawasan Banten dan Jawa Barat sejak dua hari terakhir seolah jadi bukti potensi gempa di Indonesia. Karena memang Tanah Air tercinta ini dilalui oleh pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Daryono memang membenarkan jika gempa Raja poker yang terjadi di Banten memang dipicu oleh patahan dalam lempeng oseanik Indo-Australia yang tersubduksi di bawah lempeng Eurasia.

 

“Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Pulau Jawa dengan kecepatan 6-7 centimeter per tahun. Zona gempa selatan Jawa sangat aktif sehingga pesisir selatan jawa sangat rawan gempa dan tsunami. Hingga Rabu (24/1) pagi, ada puluhan kali gempa susulan dengan tren kekuatan yang terus mengecil. Patut disyukuri bahwa kondisi akan semakin stabil dan aman,” papar Daryono panjang lebar.

 

Dengan titik pusat gempa ada pada kedalaman 61 kilometer yang merupakan slab lempeng Indo-Australia, tak heran kalau akhirnya gempa Banten memiliki guncangan yang sangat kuat. Masuk dalam kategori gempa dengan titik pusat menengah yakni 60-300 kilometer, tak heran kalau getarannya mencapai ratusan kilometer dari pusatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *